Home ::: Politik ::: Kisah Yasir Hadibroto yang Eksekusi Aidit hingga Membuat Soeharto Tersenyum

Kisah Yasir Hadibroto yang Eksekusi Aidit hingga Membuat Soeharto Tersenyum

Personal BLOG | Eksekusi Aidit | Sejarah G30 SPKI hingga kini masih kontroversi, apakah sejarahnya benar-benar sesuai yang ada di film G30SPKI, atau ada sejarah yang diselewengkan?

Kalau opini saya terkait dengan film G30SPKI sudah saya publikasikan disini, sedangkan dalam tulisan ini, diluar kontroversi terkait sejarah PKI, ada sebuah cerita yang menurut saya menarik.

Tulisan ini bercerita tentang bagaimana proses penangkapan pimpinan PKI Aidit, sekaligus menceritakan juga detik-detik Eksekusi Aidit.

Bermula dari sebuah status yang saya baca di chirpstory.com, saya ingin menuliskan ulang karena disana masih dalam bentuk format screenshoot gambar.

Saya sendiri baru tahu dan baru membacanya dan menurut saya ini menarik untuk dibaca.

Berikut ini tulisan selengkapnya,

Dan Soeharto pun Tersenyum

“ADA di mana kamu saat pemberontakan PK1 Madiun?”, tanya Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat.

“Saya waktu itu baru saja dihijrahkan dari Jawa Barat,” jawab Kolonel Yasir Hadibroto, Komandan Brigade IV Infanteri.

“Kompi saya lalu mendapat tugas menghadapi tiga batalion komunis di daerah Wonosobo, Pak.”

“Nah, yang memberontak sekarang ini adalah anak-anak PKI Madiun dulu. Sekarang bereskan itu semua! D.N. Aidit ada di Jawa Tengah. Bawa pasukanmu ke sana,” ujar Soeharto memberi perintah.

Percakapan di Markas Komando Strategis Angkatan Darat, Jakarta, itu dituturkan ulang oleh Yasir dalam Kompas edisi 5 Oktober 1980.

Saat itu dia bersama pasukannya baru saja tiba di Tanjung Priok. Brigif IV sebenarnya tengah melakukan operasi di Kisaran, Sumatera Utara. Karena mendengar peristiwa G30S, mereka kembali.

Di hari pertemuan itu, 2 Oktober 1965, tentara telah mulai mengejar orang-orang Partai Komunis Indonesia yang dituduh terlibat G30S.

Tapi Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central PKI, menghilang.

Yasir pun memboyong pasukannya ke Solo. Di sana dia bertemu Sri Harto, orang kepercayaan pimpinan PKI sedang meringkuk di salah satu rumah tahanan. Orang itu dia lepaskan.

Hanya dalam beberapa hari Sri Harto melapor: Aidit berada di Kleco dan akan segera pindah ke sebuah rumah di Desa Sambeng, belakang Stasiun Balapan, pada 22 November.

Rencana pun disusun. Dan benar, sekitar pukul sebelas siang, Aidit muncul di rumah itu, menumpang vespa Sri Harto. Sekitar pukul sembilan malam, Letnan Ning Prayitno memimpin pasukan Brigif IV menggerebek rumah milik bekas pegawai PJKA itu.

Yasir mengawasinya dari jauh. Alwi Shahab, wartawan gaek yang kala itu sedang meliput di Solo, menulis di harian Republika, waktu digerebek Aidit bersembunyi di dalam lemari. Prayitno sendiri yang menemukannya.

“Mau apa kamu?”

Aidit membentak anak buah Yasir itu saat keluar dari lemari. Prayitno keder pada mulanya, tapi segera menguasai keadaan. Setengah membujuk dia membawa Aidit ke markas mereka di Loji Gandrung.

Malam itu juga Yasir menginterogasi Aidit. Kabarnya, sang Ketua membuat pengakuan tertulis setebal 50 halaman, Isinya, antara lain, hanya dia yang bertanggung jawab atas peristiwa G30S. Sayang, menurut Yasir, Pangdam Diponegoro kemudian membakar dokumen itu.

Entah bagaimana, koresponden Asahi Evening News di Jakarta, Risuke Hayashi, berhasil mendapatkan bocoran pengakuan Aidit untuk korannya.

Menjelang dini hari Yasir kebingungan, selanjutnya harus bagaimana. Aidit berkaIi-kali minta bertemu dengan Presiden Sukarno. Yasir tak mau.

“Jika diserahkan kepada Bung Karno, pasti akan memutarbalikkan fakta se-hingga persoalannya akan jadi lain,” kata Yasir seperti dikutip Abdul Gafur dalam bukunya, Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia.

Akhirnya, pada pagi buta keesokan harinya, Yasir membawa Aidit meninggalkan Solo menuju ke arah Barat.

Mereka menggunakan tiga buah jip. Aidit yang diborgol berada di jip terakhir bersama Yasir.

Saat terang tanah iring-iringan itu tiba di Boyolali. Tanpa sepengetahuan dua jip pertama, Yasir membelok masuk ke Markas Batalion 444. Tekadnya bulat.

“Ada sumur?” tanyanya kepada Mayor Trisno, komandan batalion. Trisno menunjuk sebuah sumur tua di belakang rumahnya. Ke sana Yasir membawa tahanannya.

Di tepi sumur, dia mempersilahkan Aidit mengucapkan pesan terakhir, tapi Aidit malah berapi-api pidato. Ini membuat Yasir dan anak buah marah.

Maka: dor!

Dengan dada berlubang tubuh gempal Menteri Koordinasi sekaligus Wakil Ketua MPRS itu terjungkal masuk sumur.

24 NOVEMBER 1965, pukul 3 sore. Yasir bertemu Soeharto di Gedung Agung, Yogyakarta. Setelah melaporkan pekerjaannya, termasuk keputusannya membunuh Aidit, sang kolonel memberanikan diri bertanya:

“Apakah yang Bapak maksudkan dengan bereskan itu seperti sekarang ini, Pak?” Soeharto tersenyum.

Apa komentar anda usai baca tulisan diatas?

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Mengharukan, Isi Pidato dan Air Mata Gus Mus Saat Muktamar NU

Mengharukan, Isi Pidato dan Air Mata Gus Mus Saat Muktamar NU. Personal BLOG | Saya memang …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*