Home ::: Headline ::: Masalah dan Solusi atas Kondisi Pendidikan di Indonesia
Ilustrasi

Masalah dan Solusi atas Kondisi Pendidikan di Indonesia

Personal Blog | Pemikiran-pemikiran serta kontribusi dari Rhenald Kasali memang sudah tak diragukan lagi. Tidak hanya dalam bidang Ekonomi dan Bisnis, Rhenald Kasali juga memiliki pemikiran yang sangat saya kagumi dalam bidang pendidikan.

Waktu saya berkunjung ke Perpustakaan Bank Indonesia di Solo beberapa waktu yang lalu, saya menemukan beberapa Buku karya Rhenald Kasali, salah satunya yaitu buku yang berjudul “RE-CODE – Your Change DNA: Membebaskan Belenggu-belenggu untuk Meraih Keberanian dan Keberhasilan dalam Pembaharuan“.

Dalam buku tersebut benar-benar membuka nalar dan fikir saya atas berbagai hal dalam diri saya pribadi yang mungkin ketika dibaca oleh setiap orang akan berbeda-beda memahaminya.

Selain buku tersebut, beberapa Buku Rhenald Kasali yang pernah saya baca seperti; MYELIN Mobilisasi Intangibles menjadi Kekuatan Perubahan, Wirausaha Muda Mandiri,  Wirausaha Muda Mandiri Part 2 Kisah-kisah Inspiratif Anak-anak Muda Menemukan Masa Depan dari Hal-hal yang Diabaikan Banyak Orang.

Nah, sudah ya pengantar saya diatas untuk menggambarkan kenapa saya menyukai pemikiran dari Rhenald Kasali 🙂

Kali ini saya juga menyukai pemikiran Rhenald Kasali terkait dengan Masalah dan Solusi atas Kondisi Pendidikan di Indonesia.

Pemikiran yang saya maksud ada pada wawancara yang dilakukan oleh detik.com dengan Rhenald Kasali pada tulisan berikut ini:

Banyak sekolah sekarang yang masih memegang aturan lama padahal zaman telah berubah, termasuk perkembangan teknologi. Para guru pun dinilai enggan beradaptasi dalam zaman yang terus berubah karena masalah klasik, merasa gajinya masih kecil.

“Sekolah tidak paham bahwa teknologi sudah berubah. Gurunya tidak investasi untuk pengembangan alat-alat pendidikan, selalu menunggu pemerintah karena mereka merasa gajinya masih kecil. Jadi tidak beradaptasi. Baru belajar kalau ada perintah, perintahnya apa? Sertifikasi. Yang dikejar apa? Gelar lagi,” kata guru besar manajemen Universitas Indonesia (UI) Prof Rhenald Kasali, PhD.

Hal itu disampaikan Rhenald dalam bedah buku ‘Menjadi Sekolah Terbaik’ di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Pusat, Kamis (12/6/2014). Hadir pula dalam acara ini Prof Dr Bejo Sujanto, mantan rektor UNJ 2006-2014 dan Dra M Ridwan, pembantu rektor UNJ.

Berikut wawancara lengkap dengan Rhenald Kasali:

Sekolah terbaik menurut Bapak itu seperti apa?

Sekolah yang beradaptasi yang terus menerus melakukan perubahan. Setiap jaman sekolah terbaik itu kan beda-beda, sementara banyak sekolah yang dulu bagus sekarang sudah nggak bagus.

Bagusnya dulu karena banyak orangtua yang terlibat. Sekolahnya itu sendiri gurunya tidak belajar beradaptasi. Misalnya begini: sekarang mana ada siswa SD yang tidak punya handphone? Tapi di sekolah nggak boleh anak-anak pakai handphone. Padahal handphone dapat digunakan untuk mencari informasi lewat Google.

Artinya sekolah tidak paham bahwa teknologi sudah berubah. Gurunya tidak investasi untuk pengembangan alat-alat pendidikan, selalu menunggu pemerintah karena mereka merasa gajinya masih kecil. Jadi tidak beradaptasi. Baru belajar kalau ada perintah, perintahnya apa? Sertifikasi. Yang dikejar apa? Gelar lagi.

Bagaimana dengan anggaran pendidikan?

Anggaran pendidikan sudah cukup besar 20% tapi distribusinya ini yang menjadi persoalan. Satu karena masih terpusat. Kedua, pusat mendistribusikan ke daerah dengan harapan daerah bisa membayar tepat waktu, ternyata di daerah ada masalah administrasi sehingga tidak tepat waktu dan banyak hal yang direncanakan tidak berjalan.

Kalau menurut saya, pendidikan ini harus diotonomi-daerahkan. Bahwa di daerah banyak penyimpangan, tahap awal selalu terjadi seperti itu.

Lalu pengawasan distribusi dana bagaimana?

Kalau sudah otonomi, daerah nanti yang mengawasi. Sekarang kan jamannya social media, dikawal oleh masyarakat. Biarkan aja terbuka, dibikin pake ‘e-‘ semua. e-learning, e-government sehingga masyarakat akan mengawasi. Ga akan ada penyimpangan kalau begitu, tahap awal yang menyimpang pasti kena.

Kenapa pendidikan harus diotonomi-daerahkan?

Pertama, Indonesia negara kepulauan. Bagaimana kamu mau ngirim soal dari Jakarta ke daerah-daerah terpencil. Kita ngurus pemilu aja lama sekali. Indonesia itu tidak sama dengan Amerika yang daratan.

Kedua, semua orang di sini sudah punya teknologi informasi. Sehingga soal ujian bisa cepat bocor, hanya dengan difoto sudah bocor. Tapi kalau itu urusan daerah itu adalah kinerja daerah masing-masing, daerah akan bersaing. Kalau itu urusannya pusat, pusat akan bersaing dengan siapa? kan tidak ada kompetisi.

Setelah membaca penjelasan dari Rhenald Kasali tersebut, silahkan anda boleh saja sependapat ataupun boleh saja untuk berbeda pendapat. Namun kaya saya pribadi sangat sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Rhenald Kasali 🙂

Apa komentar anda usai baca tulisan diatas?

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Krisis Rohingya: Solusinya Tak Hanya Mengecam dan debat di SosialMedia

Saya turut berduka atas tragedi yang terjadi di Rohingnya, Myanmar. Namun saya juga jauh lebih …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*