Home ::: Sosial ::: Miris dan Memprihatinkan, Beginilah Kondisi Cagar Budaya di Semarang yang Terlantarkan
Sebelum dikonservasi, gedung bekas kantor Sarekat islam di Semarang ini kondisinya memprihantikan. Keberhasilan ini tidak terlepas dari kampanye terus menerus oleh masyarakat peduli sejarah di kota itu |gambar: BBC

Miris dan Memprihatinkan, Beginilah Kondisi Cagar Budaya di Semarang yang Terlantarkan

Miris dan Memprihatinkan, Beginilah Kondisi Cagar Budaya di Semarang yang Terlantarkan.

Personal BLOG | Saya memang sudah beberapa kali berkunjung ke Semarang, jadi saya sedikit tahu tentang bangunan-bangunan bersejarah di Semarang. Namun sayangnya, ketika membaca ulasan dan liputan khusus yang dipublikasikan di BBC.com [5/8/15], saya jadi ikut prihatin.

Saya juga jadi berfikir, jangan-jangan apa yang terjadi di Semarang terjadi juga di daerah lain?

Berikut ini saya kutipkan dari BBC terkait dengan kondisi bangunan-bangunan bersejarah di Semarang yang terkesan ditelantarkan.

Menjelang siang di sudut Jalan Kepodang, Semarang, raungan sepeda motor bercampur aduk dengan aroma makanan kaki lima. Terlihat pula beberapa pria dengan ayam aduannya.

Tidak jauh dari situ berdiri sebuah gedung tua dengan kondisi merana dan bahkan nyaris hancur.

Belakangan diketahui bangunan merana itu adalah bekas kantor redaksi surat kabar De Locomotief, yang terbit pertama kali pada 1851, dan dikenal sebagai pendukung politik Etis.

“Saya tidak habis pikir, ada sebuah bangunan yang punya nilai sejarah yang sangat tinggi, seperti De Locomotief, itu bisa terlupakan,” kata Rukardi, pimpinan Komunitas pegiat sejarah, KPS, Semarang, kepada wartawan di Semarang, Nonie Arnee.

Menurut Rukardi, keberadaan bangunan bersejarah ini tidak tercatat dalam buku Semarai bangunan dan kawasan pusaka budaya kota Semarang(2006) yang diterbitkan pemerintah kota Semarang dan Universitas Diponegoro.

Buku ini memuat sekitar 300-an bangunan yang perlu dikaji untuk ditetapkan menjadi cagar budaya, kata Rukardi.

“Bahkan sudah melalui proses penelitian, tapi faktual ternyata ada kesalahan, sehingga bangunan itu tidak tercatat sebagai bangunan cagar budaya,” katanya.

Rukardi dan orang-orang yang peduli terhadap bangunan cagar budaya telah melaporkan masalah ini kepada Balai pelestarian cagar budaya setempat untuk ditindaklanjuti.

Nasib Pasar Terongan

Bagaimanapun, kondisi merana yang dialami bangunan De Locomotiefmenambah daftar panjang bangunan tua bersejarah yang rusak atau dibiarkan terlantar di Semarang.

Masyarakat pencinta sejarah di kota itu masih ingat ketika Pasar Terongan, yang dibangun pada 1916, sebagian bangunannya telah dibongkar, Juli 2015 lalu.

Masalah pembongkaran Pasar Terongan telah dilaporkan ke Wali Kota Semarang, dan kemudian pembongkaran itu untuk sementara dihentikan, menyusul adanya penelitian terakhir yang mengukuhkan bahwa bangunan pasar itu termasuk bangunan cagar budaya.

Masyarakat pencinta sejarah di Semarang memprotes pembongkaran Pasar Peterongan, yang dibangun pada 1916. Disebutkan pasar ini menggunakan konstruksi beton yang pertama untuk bangunan pasar di Semarang.

Masalah ini telah dilaporkan ke Wali Kota Semarang, dan kemudian pembongkaran itu untuk sementara dihentikan, menyusul adanya penelitian terakhir yang mengukuhkan bahwa bangunan pasar itu termasuk bangunan cagar budaya.

Anggota Badan pengelola kawasan kota lama Semarang, Albertus Kriswandhono, yang diberi tanggung jawab menyelesaikan masalah ini, mengharapkan ada kompromi antara kepentingan sejarah dan kebutuhan untuk memperbaiki pasar tersebut.

Sejauh ini pedagang pasar ditempatkan di tempat lain selama persoalan ini belum dituntaskan, tapi menurut Kriswandhono hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

“Karena ujung dari proses ini adalah ketika cagar budaya ini tidak bisa menyejahterakan masyarakatnya, nggak usah ngomong soal cagar budaya,” kata Albertus Kriswandhono.

Dengan kata lain, “semua dapat porsinya masing-masing. Masyarakat sejarah berkontribusi memberikan sejarah, tapi ketika sejarah ini mengakibatkan hanya berpikir satu matra saja yaitu tentang sejarah, ya, yang lain tidak bisa jalan,” katanya.

Namun demikian, menurutnya, bisa saja nanti salah-satu opsi jalan keluarnya adalah menyediakan lahan baru untuk pembangunan pasar baru.

Kisah sukses Sobokartti

Sejumlah anak muda tengah latihan tari tradisional di Sasana Sobokartti, sebuah bangunan cagar budaya di Semarang, yang didirikan pada 1929.

Keberadaan Sobokartti berikut aktivitas di dalamnya adalah contoh sukses sebuah pelestarian bangunan kuno bersejarah.

Tjahjono Raharjo, ketua paguyuban Sobokartti sekaligus dosen arsitektur di sebuah perguruan tinggi swasta, mengatakan upaya konservasi gedung harus berkompromi dengan tuntutan zaman.

Tjahjono Raharjo, ketua paguyuban Sobokartti sekaligus dosen arsitektur di sebuah perguruan tinggi swasta, mengatakan upaya konservasi gedung harus berkompromi dengan tuntutan zaman.

“Kami harus menyesuaikan dengan kondisi sekarang. Misalnya, sekarang kalau pertunjukan membutuhkan lighting (lampu) yang bagus, ya nanti kami harus nambah,” kata Tjahjono memberi contoh.

Dia mengatakan, penambahan fasilitas seperti itu tidak menyalahi kaidah konservasi.

Di Semarang, juga berdiri Galeri seni kontemporer Semarang di Jalan Srigunting, yang merupakan hasil konservasi gedung cagar budaya.

Ruangan dalam “Galeri Semarang”, salah satu bagian dari gedung tua yang telah konservasi pada 2007 lalu. Gedung yang dibangun pada 1918 ini pernah ditempati sebagai kantor asuransi milik konglomerat Oei Tiong Ham dan berakhir menjadi pabrik sirop hingga 1998. Arsitek Chris Darmawan kemudian menyulapnya menjadi ruang pamer seni pada 2008 lalu.

“Itu sah-sah saja, nggak melanggar. Sekarang kalau harus punya kamar mandi yang representatif, misalnya dengan mengganti WC jongkok, yanggak apa-apa.”

Di Semarang, juga berdiri galeri seni kontemporer Semarang di Jalan Srigunting, yang merupakan hasil konservasi gedung cagar budaya. Pemiliknya, Chris Darmawan menjelaskan, bagaimana dia melakukan konservasi:

“Sambil mengkonservasi, saya memfungsikan bangunan ini menurut fungsinya yang baru. Tujuannya berhasil dua-duanya. Dari segi bangunan, kita menyelamatkannya, tapi dengan membuat bangunan ini hidup dengan memberi fungsi yang baru,” jelas Chris Darmawan.

Disulap menjadi galeri seni pada 2008, gedung tua ini dibangun pada 1918. Bangunan ini pernah ditempati sebagai kantor asuransi milik konglomerat Oei Tiong Ham dan berakhir menjadi pabrik sirop hingga 1998.

Minta dicabut status cagar budaya

Seperti yang dialami gedung De Locomotief, sejumlah gedung cagar budaya milik per orangan di kawasan kota tua Semarang banyak terlantar, karena pemiliknya dihadapkan kendala dana.

Disulap menjadi sebuah kafe, inilah wujud bagian dalam dari gedung kuno peninggalan akhir abad ke-18. Para pemerhati bangunan cagar budaya mengatakan, upaya konservasi gedung kuno harus berkompromi dengan tuntutan zaman, termasuk mempertimbangkan aspek ekonomi agar bangunan itu bisa didayagunakan.

Gedung Marba sudah didokumentasikan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan ini merupakan bentuk arsitektur transisi, dari Indische Empire ke arsitekrur Kolonial modern. Gedung ini diyakini didirikan pada 1894 oleh keluarga asal Yaman, Martha Bajunet.

Tjahjono Raharjo, ketua paguyuban Sasana Sobokartti sekaligus dosen arsitektur di sebuah perguruan tinggi swasta, mengatakan sebagian pemilik gedung tua bersejarah di kota lama Semarang, mengaku kesulitan untuk merawat bangunan miliknya.

“Ada orang yang keberatan kalau bangunannya ditetapkan sebagai cagar budaya. Bahkan ada yang pernah minta status sebagai cagar budaya itu dihapus,” kata Tjahjono.

Salah-satu gedung cagar budaya di kawasan kota lama Semarang telah dikonservasi dan difungsikan menjadi restoran.

Gedung kuno yang semula tidak terawat kemudian direstorasi oleh pemiliknya. Kini bangunan yang terletak di kawasan kota lama Semarang ini menjadi cafe Spiegel.

Dia melanjutkan, pemilik gedung tua bersejarah itu kemudian mencontohkan dilema yang dialami, utamanya seandainya dia meninggal dunia.

“Misalnya saya meninggal, ahli waris saya ingin membagi harta warisannya, diantaranya rumah itu. Nah, status cagar budaya itu menyulitkan, karena bangunan itu tidak dapat dijual, sementara ahli-ahli waris itu ‘kan tidak semuanya orang mampu. Dia butuh uang itu,” ungkapnya.

Akibat kekurangan dana, menurut pimpinan Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang, Rukardi, ada sebagian pemilik menelantarkan gedung kuno bersejarah.

“Mendiamkan bangunan itu dengan harapan bangunan itu roboh dengan sendirinya dan kemudian mereka bisa membangun bangunan baru di atasnya,” kata Rukardi.

Di sinilah muncul ide agar pemerintah Kota Semarang memberikan semacam insentif kepada pemilik gedung-gedung kuno sehingga dapat meringankan mereka.

“Mestinya tidak hanya dibebaskan dari pajak, tapi juga mendapatkan insentif,” ujar Rukardi.

Perbaiki infrastruktur

Sekretaris Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota Semarang, Irwansyah, tengah menggodok sejumlah jalan keluar untuk menyelesaikan soal kendala dana tersebut.

Gedung Lawang Sewu, salah-satu ikon penting Kota Semarang. Gedung ini, dulunya merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau Maskapai Kereta Api Hindia Belanda, dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907.

Gereja Blenduk Semarang, dibangun pada 1753, adalah salah satu bangunan penting di wilayah kota lama Semarang. Direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, dengan menambahkan dua menara. Nama Blenduk merupakan julukan masyarakat setempat yang merujuk pada bentuk kubah.

“Nanti ada insentif dan disinsentif. PBB (Pajak bumi dan bangunan) juga sedang kita upayakan untuk mereka mendapatkan keringanan. Mungkin kalau itu digunakan untuk usaha, nanti ada keringanan pajak,” kata Irwansyah saat dihubungi wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui saluran telepon.

“Yang sudah kita lakukan, pemerintah kota membantu merecording documenting masing-masing bangunan cagar budaya, terus kita bisa mengarahkan kira-kira apa yang bisa dilakukan terhadap bangunan ini,” ungkapnya.

Taman Srigunting adalah salah satu landmark di Kawasan kota lama Semarang. Di masa kolonial, taman ini disebut parade plein karena digunakan sebagai lokasi parade. Direnovasi beberapa kali, Taman Srigunting kini digunakan untuk berbagai aktivitas masyarakat setempat.

Sejumlah bangunan yang sudah didokumentasikan dan dikaji diantaranya adalah Gedung Marba, bangunan pasar Johar, Pasar Jatingaleh, Restoran Ikan bakar Cianjur, Hotel Dibya Puri, serta Hotel Candi Baru.

Tetapi arsitek dan pegiat pelestarian bangunan cagar budaya, Albertus Kriswandhono mengatakan, langkah penting yang harus dilakukan pemerintah kota Semarang adalah memperbaiki infrastruktur:

Keterangan resmi menyebutkan di Semarang ada 103 bangunan cagar budaya yang telah ditetapkan pada awal 1990-an. Namun demikian, penelitian terakhir menunjukkan ada 300-an bangunan yang perlu dikaji untuk ditetapkan menjadi cagar budaya.

“Jalan, lampu, listrik, air, itu saja yang Anda perbaiki, tidak banjir, tidak rob, selokannya jalan lancar, itu saja yang diperbaiki, Nah, untuk bekerja di sana, ada aturannya, bertanyalah kepada badan pengelola ini,” kata Albertus Kriswandhono.

Keterangan resmi menyebutkan di Semarang ada 103 bangunan cagar budaya yang telah ditetapkan pada awal 1990-an. Namun demikian, penelitian terakhir menunjukkan ada 300-an bangunan yang perlu dikaji untuk ditetapkan menjadi cagar budaya.

Para pencinta sejarah di Semarang meminta agar pemerintah Kota Semarang dan otoritas terkait terus memperbaharui proses dokumentasi dan pengkajian sehingga dapat melacak dan menyelamatkan bangunan-bangunan kuno bersejarah.

Para pencinta sejarah di Semarang meminta agar pemerintah Kota Semarang dan otoritas terkait terus memperbaharui proses dokumentasi dan pengkajian sehingga dapat melacak dan menyelamatkan bangunan-bangunan kuno bersejarah.

Apa komentar anda usai baca tulisan diatas?

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Kenapa Orang Suriah Lebih Mengungsi ke Eropa daripada ke Negara Teluk yang Kaya dan Seagama?

Kenapa Orang Suriah Lebih Mengungsi ke Eropa daripada ke Negara Teluk yang Kaya dan Seagama? …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*