Home ::: Headline ::: Resiko Banjir Jakarta di Musim Pilkada

Resiko Banjir Jakarta di Musim Pilkada

Saya pernah tinggal di Jakarta dan merasakan banjir di Jakarta, bahkan saudara saya juga banyak yang di Jakarta, serta berkali-kali jadi korban banjir di Jakarta.

Saya bisa merasakan, setiap hujan datang, selalu takut jika banjir datang secara tiba-tiba. Jika banjir datang secara tiba-tiba, maka biasanya saudara saya yang di Jakarta hanya sebagian saja barang-barangnya yang terselamatkan.

Saya merasakan bagaimana repot dan susahnya jika terkena banjir, namun beruntungnya saat itu sosial media tidak seheboh ini, sehingga saya tidak begitu tersakiti.

Namun sekarang, saat banjir datang di Jakarta, terlebih saat musim pilgub, korban banjir harus menerima tiga penderitaan sekaligus.

Penderitaan pertama karena mereka memang benar-benar jadi korban banjir, penderitaan kedua adalah, mereka harus melihat dan mendengar jika penderitaan mereka justru dijadikan bahan untuk para netizen saling hina dan cela di sosial media tanpa ada henti-hentinya. Sedangkan penderitaan yang ketiga, para korban banjir selalu dijadikan alat untuk kepentingan politik.

Mungkin inilah nasib Ibu Kota Jakarta yang justru harus terkena musibah Jakarta yang banjir di musim Pilkada.

Saya sendiri sebenarnya tidak mau ngomongin soal Pilkada, melalui tulisan ini saya juga hanya ingin menyampaikan keprihatinan saya atas para korban banjir di DKI Jakarta.

Namun sebenarnya, banjir kali ini memang sedang menimpa di berbagai daerah. Termasuk di kampung saya juga beberapa saat lalu terkena banjir, dimana banyak jalanan jadi rusak, sawah juga rusak, tapi karena di desa yang tidak ada keuntunganya untuk dieksploitasi terkait politik, tak ada yang gubris, selain kami para warga yang gotong royong sendiri.

Mungkin memang nasib warga Jakarta, dimana setiap apa yang terjadi di Jakarta selalu bikin heboh kita semua.

Termasuk soal isu pemilihan pemimpin non muslim juga jadi isu nasional, padahal di daerah lain partai-partai islam berkoalisi untuk memilih pemimpin non muslim juga tidak pernah diributkan.

Namun inilah mungkin sudah nasib Jakarta, dimana setiap ada isu sekecil apapun, jika itu memang ada celah untuk ambil untung, maka isu kecil tersebut bisa dibesar-besarkan.

Inilah nasib Jakarta, sebagai Ibu Kota Negara yang memang selalu akan jadi perhatian siapapun sesuai dengan kepentingan mereka.

Siapapun pemimpin Jakarta, sebaik apapun kinerjanya, pesan saya, tetap bersiap-siaplah untuk dicaci--maki dan dicela di sosial media, walaupun mereka yang menghina dan mencela tak tinggal di jakarta, apalagi berkontribusi atasi banjir di Jakarta -- gambar: newshub.idBahkan saat pemerintah pusat dan dki Jakarta sudah melakukan pengerukan sungai besar-besaran, ada tim orange, pengerukan gorong-gorong, dan lain lain sudah dilakukan, toh tetap saja akan jadi bahan hinaan dan cela, berbeda dengan daerah lain, jika banjir menimpa, maka akan dianggap wajar dan biasa, namanya juga musim hujan. Atau terkadang warganyalah yang disalahkan karena suka buang sampah sembarangan, dan lainya.

Lihatlah akibat dari perilaku warga Jakarta yang buang sampah sembarang dalam video ini!

Kenapa tidak marahi saja mereka yang buang sampah sembarangan?

Namun itulah nasib Jakarta, dimana pemimpinya memang harus selalu siap dihujat, dihina, walaupun sudah setiap hari bekerja.

Itulah nasib Jakarta, dimana setiap pemimpinya, mau siapapun dia, pada saatnya pasti akan mengalaminya.

Boleh saja saat musim pilkada semua calon pemimpin akan bisa menghina dan mengkritisi jika perlu memastikan bahwa banjir di Jakarta adalah MUTLAK salah pemimpinya. Namun saya pastikan, saat dirinya terpilih nanti, dan kemudian terjadi banjir, maka dia juga akan mengalami bagaimana rasanya dicaci-maki dan dihina.

Inilah fakta dan kenyataanya terkait banjir di Jakarta.

Namun demikian, melalui tulisan ini saya hanya ingin mengajak, khususnya yang masih suka menghujat dan menghina atas banjir yang terjadi di Jakarta.

Daripada anda habiskan energy untuk menghujat atas banjir di Jakarta, akan lebih baik jika anda membantu para korban banjir, kedua membantu untuk buang sampah pada tempatnya, dan menjaga lingkungan tetap bersih.

Jika anda hanya fokus saling menghina tanpa berikan kontribusi nyata, apa bedanya anda dengan sampah yang jadi penyebab terjadinya banjir di Jakarta?!.

Apa komentar anda usai baca tulisan diatas?

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Krisis Rohingya: Solusinya Tak Hanya Mengecam dan debat di SosialMedia

Saya turut berduka atas tragedi yang terjadi di Rohingnya, Myanmar. Namun saya juga jauh lebih …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*