Home ::: Headline ::: Ternyata Lomba Panjat Pinang dan Balap Karung Warisan Kolonial Belanda yang Tidak Mendidik?
gambar: koleksi pribadi

Ternyata Lomba Panjat Pinang dan Balap Karung Warisan Kolonial Belanda yang Tidak Mendidik?

Ternyata Lomba Panjat Pinang dan Balap Karung Warisan Kolonial Belanda yang Tidak Mendidik?

Personal BLOG | Apakah di daerah anda pernah [sering] mengadakan acara lomba panjat pinang dan balap karung, khususnya saat memperingati Hari kemerdekaan Indonesia?

Ternyata baru-baru ini beebrapa ahli sejarah berpendapat bahwa Panjat pinang dan balap karung dianggap sebagai warisan kolonial Belanda yang tidak mendidik.

Saya kutipkan dari CNNIndonesia.com [11/8/15], diberitakan bahwa sejumlah sejarawan menyerukan agar kegiatan panjat pinang dan balap karung selama peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus dihindari karena merupakan warisan kolonial yang tidak mendidik.

Sejarawan Asep Kambali dari Komunitas Historia Indonesia mengatakan rangkaian perlombaan yang sering diadakan pada peringatan hari Kemerdekaan Indonesia, termasuk panjat pinang dan balap karung, “tak punya efek positif dalam momen kemerdekaan.”

“Sejatinya (hari kemerdekaan) diperingati sebagai upaya untuk mengenal sejarah dan budaya bangsa dengan mengenali para pejuang karena mereka yang melahirkan bangsa ini, dan memberikan kesempatan untuk menikmati kemerdekaan dengan mengorbankan keringat, darah dan air mata,” kata Asep kepada BBC Indonesia.

Asep mengatakan banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperingati 17 Agustus, seperti napak tilas, lomba pembacaan proklamasi, lomba mirip pahlawan.

Ia mengatakan kegiatan panjat pinang, yang disinyalir diperkenalkan oleh kaum Tionghoa yang sudah ada di Indonesia sejak abad ke-5, adalah “peninggalan kolonial karena memang itu mewabah dan penetrasinya hebat di zaman Belanda.”

Warisan kolonial Belanda

Sejarawan lain, Dharma dari Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, berpandangan senada.

“Panjat pinang adalah warisan kolonial yang kurang mendidik. Apa sih bangganya kalau menang panjat pinang misalnya di kelurahan?” kata Dharma.

Di Kabupaten Balangan, menurut Dharma, panjat pinang tidak hanya dilakukan pada saat peringatan hari kemerdekaan tetapi juga dalam acara resepsi lain.

Dalam peringatan hari Kemerdekaan Indonesia ke-70 mendatang, Dharma mengatakan sejarawan dan akademisi di daerah itu mengusulkan acara bedah buku sejarah dengan mengundang para kepala daerah setempat.

Hiburan

Namun Bupati Banjar, Kalimantan Selatan, Sultan Haji Khairul Saleh mengatakan kegiatan panjat pinang ini merupakan hiburan rakyat yang telah dilakukan sejak lama.

“Bagaimanapun naik pinang di ajang HUT RI harus dipahami sebagai hiburan rakyat yang murah meriah dan melibatkan semua kalangan masyarakat. Inilah saya kira cara rakyat memahami HUT dengan semarak dan mengingatkan mereka pada HUT kemerdekaan bangsanya.”

Pandangan sejumlah sejarawan terkait panjat pinang sebagai warisan zaman kolonial merupakan tafsir, kata Khairul yang juga merupakan Sultan Banjar dan Sekretaris Jenderal Kerapatan Raja Sultan se-Borneo.

“Jika para sejarawan mengatakan naik pinang adalah warisan kolonial dan tidak mendidik, saja kira hal demikian soal tafsir saja.

“Saya meyakini hiburan naik pinang itu asli Indonesia, asli nusantara sejak kerajaan masa lalu,” tambahnya.

Kalau menurut anda sendiri bagaimana setelah membaca ulasan yang sudah disampaikan oleh para sejarawan tersebut? Apakah anda sepakat dengan pakar di bidang sejarah tersebut, atau anda lebih sepakat dengan pendapat dari Bupati Banjar, Kalimantan Selatan, Sultan Haji Khairul Saleh mengatakan kegiatan panjat pinang ini merupakan hiburan rakyat yang telah dilakukan sejak lama?. Semuanya dikembalikan kepada tafsir anda masing-masing.

Apa komentar anda usai baca tulisan diatas?

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Gambar Tanpa Judul Tapi Mengandung Arti, Berjuta Nasihat dan Renungan

Gambar Tanpa Judul Tapi Mengandung Arti, Berjuta Nasihat dan Renungan. Personal BLOG | Arif RH …

3 comments

  1. Menurut saya yang asli orang Banjar Kal-Sel, dan tidak pernah merasakan makan bangku sekolahan, saya malah menafsirkan panjat pinang itu bisa merupakan gambaran persatuan dan kerjasama dalam berjuang mencapai tujuan (hadiah), sebagaimana persatuan dan kerjasama yang di lakukan oleh “datu nene kami” sewaktu berjuang merintis dan mempertahankan kemerdekaan NKRI ini semasa perjuangan dulu, dan bagi kami yang berasal dari keluarga tidak mampu, hiburan gratis (panjat pinang) setiap tahun itu sangat berarti, karena kami tidak bisa membeli dan menikmati hiburan lain selain itu karena tidak ada yang gratis, kayapa, apa habar pa gub

  2. sejarawan dan akademisi tidak pernah menang ikutan panjat pinang dan lari karung..makanya mereka mau hilangkan panjat pinang dan lari karung,…… hari kemerdekaan, pesta rakyat di suruh bikin acarah bedah buku ? mana ada yang mau ikut kalau tidak di bayar….!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*