Home ::: Politik ::: Ulama Adalah Pewaris Para Nabi, Tunjukan Akhlaq dan Kebajikanmu, Bukan Jadi Provokator!
ilustrasi

Ulama Adalah Pewaris Para Nabi, Tunjukan Akhlaq dan Kebajikanmu, Bukan Jadi Provokator!

Ulama Adalah Pewaris Para Nabi, Tunjukan Akhlaq dan Kebajikanmu, Bukan Jadi Provokator!

Personal BLOG | Saya agak heran memang ketika melihat yang terjadi di negeri kita ini, dimana terkadang saya melihat orang yang katanya punya kesan sebagai ulama [ahli] beragama, tapi tiap jelang pemilukada, justru beberapa diantara merek [tidak semuanya] justru terkesan berubah seperti ahli provokator?

Apalagi tokoh-tokoh agama yang aktif berpolitik, pada masa kampanye, beberapa [tidak semuanya] diantara mereka kok seolah-olah muncul ke permukaan bukan sebagai seorang ahli agama, tapi terkadang muncul sebagai ahli provokator.

Saya tidak berani memastikan itu, tapi disini saya hanya ingin mengungkapkan apa yang saya lihat dan apa yang saya amati.

Bahkan saya sendiri pernah langsung melihat itu pada tokoh agama di lingkungan saya, dimana setiap hari dirinya dikenal sebagai orang ahli dalam agama dan laris-manis untuk jadi penceramah untuk berdakwah soal agama.

Tahu sendiri namanya ceramah agama itu kan pasti kadang menasihati umat supaya bisa menjaga lidah, jangan suka fitnah, jangan sebarkan kebencian, saling hormat menghormati, perbaiki akhlaq, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan berjuta nasihat baik lainya.

Namun alangkah terkejutnya saya, ketika dirinya aktif dan gabung di salah satu partai dan mendukung calon tertentu, maka yang tadinya tiap ngomong selalu berbau nasihat dan bikin adem serta membuat hati tentram, tiba-tiba seolah-olah jadi sebaliknya.

Yang dulunya selalu kasih nasihat supaya jangan suka ngomongin orang, dalam ceramahnyapun ternyata jelekin calon-calon yang tidak didukung.

Yang tadinya nasihatin supaya jangan suka fitnah, eh, terkadang justru malah menduga-duga kalau pilih si “anu” bisa-bisa bangsa ini tambah rusak dan seterusnya.

Apa yang saya lihat disekitar saya tersebut, ternyata kok entah kebetulan atau tidak, tiap jelang pemilukada, kok saya lihat orang-orang ahli agama yang seharusnya tiap muncul di TV lebih pantesnya mengeluarkan statemen yang berakhlaq dan bijak, kok faktanya justru kadang malah komentar dan pernyataanya seperti ahli provokator?

Saya disini tidak ingin menyebut nama karena saya disini benar-benar memang sedang heran saja dengan perilaku-perilaku mereka.

Saya menuliskan ini benar-benar karena ketakutan saya begini,

Jika seorang yang dianggap dan dinilai sebagai orang beragama yang seharusnya memiliki akhlaq yang baik saja, gara-gara musim pilkada [politik] tiba-tiba berubah jadi orang yang kasar pernyataanya, lantas bagaimana dengan orang awam di sosial media?

Kekhawatiran saya selanjutnya, jika orang yang ahli agama saja gara-gara isu politik dan musim kampanye jadi berubah kasar begitu, bagaimana dengan para politikus busuk yang selama ini memang sudah jadi orang kotor? Tentunya logikanya bisa semakin menjadi-jadi dan semakin brutal bukan?

Seorang yang sudah berani disebut ulama, itu artinya mereka adalah pewaris para nabi. Jadi, perilaku dan akhlaqnya juga seharusnya mengikuti rosululloh Muhammad S.A.W.

Ingatlah bahwa ulama itu juga jenisnya ada 2;

#1. Ulama Pewaris para Nabi,

Ciri-cirinya;

  • Memiliki Ilmu yang luas
  • Hidupnya Zuhud
  • Berani menyampaikan kebenaran meskipun pahit
  • Tidak takut dan tidak mengharap apa-apa dari manusia
  • Rasa takut dan harapnya hanya kepada Allah S.W.T

#2. ‘Ulama Su’ (jelek; jahat)

Ciri-cirinya,

  • Ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya berbisa dan menyebarkan fitnah
  • Hidupnyan condong kepada kemewahan
  • Selalu mendekati penguasa dan orang kaya untuk mendapatkan dunia
  • Menjual ayat-ayat Allah untuk kepentingan dunianya
  • Bila mengeluarkan fatwa motivasinya bukan untuk kebijakan melainkan demi mencari ridha penguasa dan konglemerat, meskipun hal tersebut menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

Jadi, seorang ulama harus bisa menunjukan akhlaq dan kebijakanya dalam berbangsa dan bernegara. Dengan cara seperti itulah ulama akan dihargai oleh umat, bahkan disegani non muslim.

Saya sangat prihatin jika sampai ada ulama yang justru gila penghormatan dan sanjungan. Ingatlah bahwa seorang ulama dihargai tidaknya tergantung sikapnya terhadap masyarakat. Dan ulama tidak boleh meminta dihormati dan dihargai oleh manusia, karena semua yang dilakukan ulama sudah sewajibnya karena llah S.W.T.

Ini semuanya hanya unek-unek saya saja, apakah anda merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan dan yang saya lihat? itu saya kembalikan kepada diri anda masing-masing.

Namun tentunya saya teramatsangat berharap kepada mereka yang “NGAKUNYA/MERASA” sebagai orang yang tahu dan faham soal agama, jika ada kegaduhan di negeri kita ini, saya berharap mereka datang sebagai orang yang punya akhlaq baik dan bijak, yang mampu mendamaikan kekisruhan tersebut, bukan justru malah jadi provokator apalagi memperkeruh suasana.

Semoga!

Apa komentar anda usai baca tulisan diatas?

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

MAFIA PLN: Mengkritisi Kinerja PLN dan Menuntut HAK Penerangan Jalan!

MAFIA PLN: Mengkritisi Kinerja PLN dan Menuntut HAK Penerangan Jalan! Personal BLOG | Saat ini sedang …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*