Home ::: Headline ::: MIRIS dan MENYEDIHKAN!, Nenek 63 Tahun DIDUGA Curi Batang Kayu LANGSUNG DIPENJARA
Saat koruptor milyaran rupiah yang sudah DIPASTIKAN jadi tersangka masih bisa bercanda ria bahkan mungkin masih bisa berpesta-pora tanpa ditahan, akan tetapi seorang nenek-nenek sudah berusia 63 tahun, Ibu Muaris asal Situbondo LANGSUNG DITAHAN dan SUDAH 3 BULAN dipenjara hanya karena tuduhan mencuri batang kayu jati :-( | Nenek Asyani, 63, bersimpuh di depan majelis hakim PN Situbondo untuk meminta dirinya dibebaskan saat sidang kasus pencurian kayu jati Senin lalu (9/3). Foto: Rendra Kurnia/Jawa Pos Radar Banyuwangi

MIRIS dan MENYEDIHKAN!, Nenek 63 Tahun DIDUGA Curi Batang Kayu LANGSUNG DIPENJARA

MIRIS dan MENYEDIHKAN!, Tersangka Korupsi Milyaran TIDAK DIPENJARA, Nenek 63 Tahun DIDUGA Curi Batang Kayu LANGSUNG DIPENJARA.

Personal BLOG | Gregetan rasanya lihat hukum di Indonesia. Saat koruptor milyaran rupiah yang sudah DIPASTIKAN jadi tersangka masih bisa bercanda ria bahkan mungkin masih bisa berpesta-pora tanpa ditahan, akan tetapi seorang nenek-nenek sudah berusia 63 tahun, Ibu Muaris asal Situbondo LANGSUNG DITAHAN dan SUDAH 3 BULAN dipenjara hanya karena tuduhan mencuri batang kayu jati 🙁 :-((

Kebetulan saja Ibu saya juga seumuran dengan Bu Muaris, jadi rasanya membaca berita tersebut rasanya benar-benar langsung gregetan banget hati saya.

Sengaja saya bookmark pemberitaan yang saya kutip langsung dari jpnn.com [11/3/15], Setidaknya sebagai dokumentasi saya pribadi atau siapapun yang ikut terenyuh membaca kisah ini. Betapa hukum di negeri ini teramatsangat menyedihkan, memilukan, dan teramatsangat memprihatinkan.

Anggaplah benar si nenek itu memang mencuri batang kayu milik perhutani, apakah harus seperti itu perlakuanya?!

Itupun kalau tuduhan itu benar, padahal itu belum diputuskan oleh pengadilan.

Sedangkan disisi yang lain, para KORUPTOR BUSUK yang sudah jelas-jelas DIVONIS TERSANGKA justru masih bebas TIDAK DITAHAN dan masih bebas tertawa dan bersuka ria bahkan mungkin berpesta-pora.

INI BENAR-BENAR TERAMATSANGAT TRAGIS!

Silahkan anda baca informasi lengkap terkait kasus memilukan ini yang mungkin hanya ada di Indonesia 🙁

Bu Muaris, nenek 63 tahun, dituduh mencuri tujuh batang kayu jati yang konon milik Perhutani. Sudah hampir tiga bulan ini nenek renta itu menjadi tahanan titipan di Rutan Situbondo.

Tinggal di ruang pengap dengan penjagaan tersebut, bisa jadi, akan dijalani lebih lama oleh Asyani. Sebab, seperti dilaporkan Jawa Pos Radar Banyuwangi, sidang di Pengadilan Negeri (PN) Situbondo belum kunjung menghasilkan putusan. Sidang baru memasuki tahap materi eksepsi atas dakwaan jaksa penuntut.

Supriyono, kuasa hukum Asyani, menyatakan segera mengajukan penangguhan penahanan. Pertimbangannya, usia kliennya sudah sepuh.

’’Besok (Kamis, 12/3), kami mengajukan penangguhan kepada majelis hakim. Saya yakin, karena pertimbangan kemanusiaan, majelis hakim mengabulkannya,” jelas Supriyono saat dihubungi Jawa Pos Radar Banyuwangi Selasa malam (10/3)

Supriyono juga optimistis Asyani divonis bebas. Itu berdasar fakta-fakta di lapangan dan bukti-bukti yang dimilikinya. ’’Terlalu banyak dugaan rekayasa dalam kasus ini,” ungkapnya.

Supriyono memaparkan, kasus penebangan tujuh batang kayu jati yang menyeret Asyani terjadi sekitar enam tahun lalu. Nah, pada Desember 2014, karena baru ada uang untuk ongkos menggarap, kayu jati yang sudah disimpan enam tahun itu dibawa ke rumah tukang kayu untuk dibuat semacam lencak (tempat duduk seperti tempat kasur).

Saat kayu-kayu akan diangkut pikap itulah, petugas Perhutani memergoki dan menyangka kayu jati tersebut merupakan kayu curian.

Atas laporan Perhutani, Asyani ditangkap dan ditahan sejak 15 Desember 2014. Tak hanya Asyani, orang yang saat itu bersamanya juga diringkus. Mereka adalah Ruslan, menantu Asyani; Sucipto, tukang kayu; dan Abdus Salam, sopir pikap.

“Saya mengambil kayu jati di lahan sendiri. Sekarang lahan itu sudah saya jual. Penebangnya suami saya yang sekarang sudah meninggal. Jadi, saya tidak mencuri, saksinya orang sekampung,” ungkap Asyani dengan bahasa Madura karena tidak bisa berbahasa Indonesia.         Selama menjalani sidang, Asyani terlihat pasrah menerima nasibnya.

Menimpali perkataan kliennya, Supriyono juga menunjukkan fotokopi warna bukti kepemilikan lahan Asyani enam tahun lalu. Termasuk, bukti foto bekas potongan kayu jati di lahan milik Asyani.

’’Kades juga membenarkan bahwa lahan itu adalah milik hak warisnya, yaitu Asyani. Tetapi, kenapa kasusnya justru tetap jalan, ada apa dengan semua ini?” gugat Supriyono. Jaksa penuntut umum (JPU) Ida Haryani mengajukan dakwaan berbeda kepada masing-masing terdakwa.

Dakwaan itu disesuaikan dengan peran masing-masing. Yang jelas, empat terdakwa dijerat dengan pasal 12 huruf D juncto pasal 83 ayat 1 huruf A Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Ancaman hukumannya lima tahun penjara. Sayangnya, pihak Perhutani selaku pelapor awal dalam kasus tersebut tidak menunjukkan batang hidungnya selama sidang berlangsung.

Dalam sidang Senin (9/3), Asyani menangis histeris. Dia seketika bersimpuh di hadapan majelis hakim. Bahkan, Supriyono ikut menangis saat melihat terdakwa meminta ampun.

’’Pak Hakim, saya minta ampun. Saya tidak mencuri. Ibu (JPU) saya juga minta ampun,” kata sang nenek sambil menangis.

Melihat kejadian itu, hakim Kadek menskors jalannya sidang. JPU dan kuasa hukum terdakwa langsung menghampiri Asyani yang masih bersimpuh di lantai ruang sidang untuk menenangkan. Sekitar 15 menit kemudian, hakim ketua mencabut skors dan meneruskan sidang.

Ketika sidang lanjutan berjalan, Supriyono mengungkap sejumlah dugaan rekayasa dalam penyidikan polisi. Tak hanya itu, penyidikan untuk membuat berita acara pemeriksaan (BAP) yang akan menjadi dasar surat dakwaan juga disebut ada rekayasa sehingga melanggar hak asasi manusia (HAM).

’’Terdakwa disuruh mengakui perbuatan yang tidak dilakukan. Terdakwa dikriminalisasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Supriyono.

Bahkan, lanjut Supriyono, ada oknum polisi yang meminta terdakwa tidak menggunakan kuasa hukum. ’’Ada oknum polisi Jatibanteng dan petugas Perhutani yang menurut keterangan terdakwa menyodorkan amplop cokelat berisi uang. Terdakwa diancam akan dihukum berat jika tidak mengakui perbuatan yang tidak dilakukan,” jelasnya.

Supriyono menutup eksepsi dengan meminta majelis hakim untuk mengabulkan seluruh nota keberatan terdakwa Asyani. ’’Menyatakan surat dakwaan JPU batal demi hukum, bebas dari segala tuntutan, dan meminta JPU melepaskan Asyani dari tahanan,” tegasnya.

Majelis hakim kemudian memberikan kesempatan kepada JPU Ida untuk menyampaikan tanggapan atas eksepsi tersebut pada sidang selanjutnya. ’’Sidang ini ditutup dan dilanjutkan pada Kamis (12/3) dengan agenda sidang tanggapan JPU,” kata hakim Kadek yang diikuti dengan tiga kali ketokan palu.

Untuk anda yang ingin bersimpatik terhadap Bu Muaris, silahkan sebarkan berita ini agar banya orang tahu bahwa di negeri ini hukum kita dan para penegak hukum kita masih teramatsangat MENGECEWAKAN, dan MENGENASKAN! 🙁

Apa komentar anda usai baca tulisan diatas?

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Perbedaan Antara Cewek dan Cowok yang Dibenarkan Menurut Sains dan Ilmu Pengetahuan

Perbedaan Antara Cewek dan Cowok yang Dibenarkan Menurut Sains dan Ilmu Pengetahuan. Personal BLOG | Jangan pernah …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*