Home ::: Headline ::: Kisah Luar Biasa dari Jan Koum Pendiri WhatsApp, Dari Gelandangan hingga Memiliki Harta Ratusan Triliun
Jan Kaum Pendiri WhatsApp, Seorang yang dahulunya gelandangan miskin yang sekarang memiliki kekayaan hingga 209 Triliun. | sumber gambar : DailyMail.co.UK

Kisah Luar Biasa dari Jan Koum Pendiri WhatsApp, Dari Gelandangan hingga Memiliki Harta Ratusan Triliun

Kisah Luar Biasa dari Jan Koum Pendiri WhatsApp, Dari Gelandangan hingga Memiliki Harta Ratusan Triliun.

Personal BLOG | Anda pernah mendengar nama Jan Koum Pendiri WhatsApp?

Kisah ini benar-benar sangat menginspirasi dan mengharukan dan berakhir dengan sangat membahagiakan.

Saya sarankan untuk anda yang mudah tersentuh agar siapkan tisu untuk mengusap air mata anda membaca kisah dari Jan Koum Pendiri WhatsApp seorang yang dahulunya hanyalah seorang gelandangan, sekarang ini sudah dikenal sebagai Pendiri dari WhatssApp yang mungkin sedang anda pakai sekarang.

Ya ! Perjuangan seorang yang dahulu hanya seorang gelandangan, tapi sekarang dunia mengenalnya sebagai seorang Pendiri dari WhatsApp Jan Koum yang barusaja mendapatkan uang senilai Rp 209 Triliun yang baru dibeli oleh Facebook.

Perusahaan yang hanya memiliki 55 orang karyawan akan tetapi mampu menjual sebuah aplikasi bernama WhatsApp dengan harga luar biasa besar, Rp 209 triliun!!.

Tapi apa yang didapat dan diraih oleh Jan Koum sebagai Pendiri WhatsApp tidaklah mudah. Tulisan ini akan menceritakan bagaimana perjuangan Jan Koum sebagai Pendiri WhatsApp yang sangat menginspirasi untuk anda membacanya dan membagikanya kepada teman-teman anda.

Melalui tulisan ini saya ingin mendokumentasikan kisah ini sebagai inspirasi saya dan mudah-mudahan juga inspirasi untuk anda yang sedang membaca tulisan ini.

Jan Koum, pendiri WhatsApp ini merupakan seorang yang terlahir dari keluarga yang sangat miskin. Jan Koum lahir dan dibesarkan di sebuah negara yang saat ini sedang terjadi konflik bernama Ukraina.

Saat usia Jan Koum 16 tahun, Jan Koum memutuskan diri untuk nekat pindah ke amerika bersama Ibu tercinta, Tujuanya saat itu hanya satu, yaitu untuk mengejar apa yang dikenal oleh banyak orang sebagai “American Dream”.

Sesampainya di Amerika dirinya tidaklah langsung menikmati apa yang orang sebut sebagai “American Dream. Jan Koum saat itu yang berusia 17 tahun hanya bisa makan dari jatah pemerintah.

Jan Koum yang saat ini sudah dikenal sebagai Pendiri WhatsApp, saat itu dirinya nyaris menjadi gelandangan. Bayangkan saja, dirinya harus tidur di jalanan dengan beratapkan langit dan beralaskan tanah jalanan.

Untuk bertahan hidup, Jan Koum yang saat itu masih remaja bekerja sebagai tukang bersih disebuah supermarket. Jika mengingat masa lalunya Jan Koum sering sekali menangis mengenang perjuangan dan kisah hidupnya yang begitu pahit.

Kehidupan Jan Koum semakin pahit dan terjal saat kondisi Jan Koum yang sedang begitu menderita justru Jan Koum harus mendengar kabar jika ibunya di diagnosa kanker.

Dengan kondisi yang tak menentu itu, Jan Koum bersama Ibu yang berjuang bersama sejak di Ukraina hingga pindah ke Amerika ini kemudian hanya hidup dengan mengandalkan tunjangan kesehatan seadanya.

Walaupun kondisinya yang begitu sulit, Jan Koum tetap nekat memberanikan diri untuk kuliah di san jose university dengan tujuan bisa merubah hidupnya dan nasib Ibunya yang sangat ia cintai.

Namun setelah beberapa waktu kuliah, Jan Koum kemudian memilih drop out dari kampusnya.

Setelah memutuskan untuk D.O dari kampusnya, dari sinilah kisah baru perjalanan hidup seorang Jan Koum dimulai.

Setelah D.O, Jan Koum lebih suka belajar programming secara otodidak melalui memperbanyak baca Buku dan membaca berbagai referensi dari internet.

Statistik WhatsApp yang teratas dan diprediksi akan terus naik pengguna dari WhatsApp | sumber gambar : DailyMail.co.uk
Statistik WhatsApp yang teratas dan diprediksi akan terus naik pengguna dari WhatsApp | sumber gambar : DailyMail.co.uk

Beberapa orang yang sudah membuktikan kesuksesanya walau di D.O tidak hanya Jan Koum. Pendiri microsoft, apple, facebook, semua bilioner. Mereka juga semua DO saat kuliah.

Karena keahlian dan kemampuan Jan Koum sebagai programer, akhirnya dengan perjuanganya yang sangat gigih tersebut, Jan Koum saat itu diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo.

Jan Koum saat itu bekerja di yahoo selama 10 tahun. Di Yahoo ini pula ia memiliki teman yang sangat akrab bernama Brian Acton.

Bersama teman dekatnya bernama Brian Acton tersebut, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk keluar dari Yahoo.

Data inilah yang kemudian dijadikan salah satu Dasar pertimbangan kenapa Facebook berani membelinya dengan harga Rp 209 Triliun. | sumber Gambar DailyMail.co.uk
Data inilah yang kemudian dijadikan salah satu Dasar pertimbangan kenapa Facebook berani membelinya dengan harga Rp 209 Triliun. | sumber Gambar DailyMail.co.uk

Sebuah keputusan yang kemudian mengantarkan kepada kesuksesan besar yang luar biasa. Ya, karena setelah keluar dari Yahoo, akhirnya Jan Koum bersama dengan Brian Acton kemudian membuat sebuah Aplikasi yang pada selanjutnya merubah hidup mereka bernama WhatsApp.

WhatsApp diciptakan oleh Jan Koum dan Brian Acton pada Tahun 2009 setelah mereka resign dari Yahoo.

Sebelum menciptakan WhatsApp, Jan Koum dan Brian Acton sempat melamar ke Google. Tapi saat itu Jan Koum dan Brian Acton Ditolak oleh Google.

Banyak orang beranggapan jika Google mungkin menyesal seumur hidup karena sudah menolak lamaran Jan Koum dan Brian Acton saat itu.

Ada sebuah kisah dan ritual yang sangat mengharukan yang dilakukan oleh Jan Koum setelah whatsApp resmi dibeli dengan harga Rp 209 triliun dari Facebook.

Secara tidak diduga dan mengejutkan banyak orang, Jan Koum melakukan ritual yang sangat mengharukan.

Jan Koum datang ke tempat dimana dirinya dulu setiap pagi antri untuk mendapatkan jatah makan saat ia masih remaja miskin berusia 17 tahun. Sambil mengenang masa-masa sulit hidupnya kala itu, Jan Koum menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antri hanya untuk mendapatkan makanan.

Jan Koum mengenang saat itu yang bahkan untuk makan saja ia tidak punya uang.

Saat mengenang masa-masa sulit itu, tak terasa air mata Jan Koum mengalir deras dalam kelopak matanya. Jan Koum, Pemuda yang teramat sangat miskin dahulunya ini tidak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan harga Rp 209 triliun.

Ritual Jan Koum tidak berhenti sampai situ saja, Jan Koum yang dikenal sebagai seorang yang sangat berbakti dan mencintai Ibunya itu lalu mengenang Ibunya yang sangat dicintainya yang sudah meninggal karena serangan kanker.

Jan Koum ingat betul bagaimana perjuangan Ibunya yang saat itu rela menjahit baju buat dirinya demi menghemat karena tak ada uang nak.

Jan Koum pun sangat menyesal dan terpukul karena kesuksesanya hari ini yang dia perjuangkan dahulu bersama Ibunya ternyata hanya ia nikmati sendiri dan tak pernah bisa mengabarkan berita bahagia ini kepada ibunya yang telah lebih dahulu meninggal.

Saat melakukan ritual di masa-masa sulit hidupnya itu, dalam hati Jan Koum yang terdalam, mungkin hatinya akan berucap, “Di tempat antrian dapat jatah makan inilah, nasib hidup saya pernah dipertaruhkan…”,

Karunia Tuhan bernama Rizqi mungkin datang dari arah yang tak terduga. Jan Koum, seorang remaja yang dahulu teramat sangat miskin dan hanya seorang gelandangan, hidup juga hanya mengandalkan jatah makan dari pemerintah saat itu, kini hidup Jan Koum berubah total.

Dengan kekayaan yang dia miliki sebesar 209 Triliun dari hasil penjualan WhatsApp, dirinyua bisa membeli apa yang dirinya mau dan inginkan.

Sebuah kisah yang dia dapat tidak dengan mudah, dibalik kisah kebahagiaan dan kesuksesan Jan Koum, disana ada kisah perjuangan, Kerja Keras, Mimpi besar, Belajar dan terus belajar untuk mencapai mimpi-mimpi besarnya hingga akhirnya tercapai.

Kisah dari Jan Koum ini bisa memberikan pelajaran kepada kita bahwa TIDAK PENTING kita berasal dari kalangan manapun, dari anak orang miskin, gelandangan, pengamen, dan semua status sosial apapun tidak penting, Yang PENTING dan membedakan adalah seberapa kita mau Berusaha dan berusaha tanpa menyerah untuk mewujudkan mimpi besar kita, tentunya dengan kita bekali tekat yang kuat dan semangat untuk belajar dan terus belajar dalam meraih sukses dan mimpi besar kita.

Jika anda yang sudah membaca kisah ini apalagi bersedia membagikan tulisan ini, semoga saja anda dan teman anda yang membaca kisah Jan Koum ini bisa mendapatkan inspirasi dan semangat baru untuk terus semangat mewujudkan mimpi kita semua.

Terus semangat, bekerja keras, terus belajar, dan berdoa, mudah-mudahan mimpi kita semua bisa terwujud dan terkabul.

Amiiiiin

*Catatan:

Di beberapa tulisan ada yang menuliskan nama Jan Koum dengan tulisan “Jan Koun” (dengan huruf “n”). setelah saya telusuri, nama yang benar sebagaimana saya dapat dari media Internasional bernama DailyMail.co.uk, yang benar yaitu Jan Koum.

Apa komentar anda usai baca tulisan diatas?

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Krisis Rohingya: Solusinya Tak Hanya Mengecam dan debat di SosialMedia

Saya turut berduka atas tragedi yang terjadi di Rohingnya, Myanmar. Namun saya juga jauh lebih …

6 comments

  1. Saya anak pedagang kaki lima, membaca kisah ini saya benar2 dibuat malu karena selama ini saya hanya fokus menyalahkan nasib saya yang hanya seorang anak PKL, padahal bener banget seperti penulis bilang,
    “TIDAK PENTING kita berasal dari kalangan manapun, dari anak orang miskin, gelandangan, pengamen, dan semua status sosial apapun tidak penting, Yang PENTING dan membedakan adalah seberapa kita mau Berusaha dan berusaha tanpa menyerah untuk mewujudkan mimpi besar kita, tentunya dengan kita bekali tekat yang kuat dan semangat untuk belajar dan terus belajar dalam meraih sukses dan mimpi besar kita.”

    Seharusnya media nasional harus lebih banyak memberitakan tulisan2 kisah inspirasi seperti ini untuk memotivasi orang2 seperti saya agar menjadi termotivasi. Terima kasih

    • Justru hampir banyak orang yg mampu sukses itu orang2 berkelas status sosial bawah, hanya saja yg membedakan adalah APA YANG DILAKUKAN untuk memperbaiki nasib dan keadaan, kisah Jan Koum bisa jadi contohnya..
      Ikut senang jika tulisan disini mampu memberikan inspirasi kepada pembacanya 🙂

  2. Suci Ida Setyaningsih

    Dari gelandangan saja dengan ketekunan dan kerja kerasnya mampu meraih kesuksesan sebesar itu.
    Saya yang sudah lulusan sarjana, uang tinggal minta orang tua, ternyata hanya menjadi karyawan swasta biasa.

    Malu banget saya yang selama ini hanya mengeluh dan mengeluh saja dan terlalu banyak menuntut, padahal tidak punya usaha yang kuat dan gigih.

    Makasih banyak untuk tulisan dan inspirasinya..

  3. Terima kasih banyak atas tulisanya, bener2 bikin mewek :-((

    Terharu banget mendengar perjuanganya, Saya termasuk pemakai Aplikasi WhatsApp.
    Baru tahu juga ternyata dibalik aplikasi ini ada kisah yang begitu mengharukan dari sang pendirinya.
    Mohon izin untuk ngeshare tulisan ini. erima kasih banyak..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*